Jadi, masih lanjut sebelumnya.
Dia cuma satu satunya anak yang peduli mau nolong, jahatnya, aku nggak ingat namanya.
Panggil aja 'A', ya maaf udah lama jadi nggak ingat.
Nah semenjak itu nggak ada yang gangguin lagi karena selalu di tolong sama A.
Dan suatu hari ada yang pindah ke sebelah rumah, mengejutkannya yang pindah si A. Rumahku berlantai 2 dan kamarku terletak di atas. Di kamarku terdapat sebuah jendela yang menghadap langsung ke jendela rumah sebelah. Awalnya jendela itu selalu ku tutup karena keadaan rumah sebelah yang kosong, sekarang selalu di buka untuk mengobrol dengan si A.
Cheasy? Memang kejadian seperti itu.
Tak jarang kita bermain bersama di sela jadwal padatku. Terkadang aku yang bermain ke rumahnya, terkadang dia yang kerumahku.
Rumah kami berdua memiliki nuansa yang berada. Rumahnya lebih kearah kuno begitu, di sepanjang lantai dua lantainya tertutupi karpet semua. Sedangkan rumahku lebih ke arah modern, dengan berbagai pilar yang menjulang.
Tentu kita menjadi dekat, bahkan hingga tk kita satu sekolah lagi.
Ibunya bahkan seperti ibuku sendiri, tau apa yang kusuka, dan sebagainya.
Tapi saat libur semester kalau tidak salah, tiba tiba saja aku yang sudah pulang les mendapati rumah sebelah menjadi sepi.
Ketika naik kekamar dan melihat jendela aku melihat banyak kardus di depan halamannya. Lalu mobil melaju bersama dengannya dan keluarga.
Seminggu kemudian aku pindah ke Ungaran, untuk tinggal di tempat nenek dari ibuku.
Sayangnya aku tidak pernah mendengar kabarnya lagi sampai sekarang.
No comments:
Post a Comment