Dreamer(s) - a story (2)

2|Situation

" Ra, kemana aja sih lo ni. "

Nara langsung menangkap sosok Liya yang sedang duduk ditengah, segera ia menghampiri dan meletakkan tasnya di bangku samping Liya.

" Ya maaf, kejebak sama orang aneh tadi. "

" Orang aneh? " Liya mengerutkan kening.

" Yah nggak penting sih sebenarnya, dia nggak ngapa ngapain gue juga kok. " Nara dengan tenang mengeluarkan kotak pensilnya dari dalam tas. " Yang lebih penting lagi, gue mau cerita sama lo. "

" Ya udah gih cerita aja. " Liya memangku wajahnya dengan tangan ke arah Nara, siap mendengarkan ceritanya.

" Gimana ceritanya ya, gue tu- " Perkataan Nara terhenti karena merasa ada yang memegang rambutnya dan mengacak ngacaknya pelan.

" Wah ternyata lo beruntung banget ya, sekarang malah kelasnya tetanggaan sama gue. " Suara berat yang familiar membuat mata Nara membulat dan segera menengok ke belakangnya.

Liya menutup mulutnya dan menunjukkan ekspresi tak percaya, dan hampir seluruh gadis di kelasnya melakukan hal yang sama.

Nara tidak mengerti, mengapa pemandangan ini terus ia lihat ketika berada di sekitar cowok menyebalkan di depannya.

" Lo kurang beruntung, harusnya lo seke- "

Nara memegang tangan Elon yang berniat mengacak rambutnya lagi, dengan tatapan tajam yang menandakan Nara tidak suka.

" Maaf gue nggak kenal lo. " Katanya ketus, membuat sekelas tiba tiba sunyi. Kemudian di gantikan seisi kelas yang berbisik satu sama lain.

Liya menarik tangan Nara keluar kelas, berhenti di depan.

" Lo bercanda kan? " Liya memegang kedua pundak Nara dengan ekspresi serius.

Nara memasang ekspresi bingung. " bercanda apanya Li, itu cowok yang gue maksud. "

Elon keluar dari dalam kelas di ikuti beberapa anak laki laki di belakangnya. Ia menatap Nara sebentar, kemudian tersenyum miring lalu pergi.

" Ra, dia it- "

" Kenapa kalian masih di luar? "

Suara seseorang memotong perkataan Liya, membuat keduanya menoleh kompak dan menemukan sosok wanita paruh baya.

" Eh, anu bu, kita cuma lagi cari angin aja, di dalam panas bu. " Liya tersenyum kaku.

" Masuk sekarang! "

••••

Nara menghembuskan nafasnya berat, matanya menatap keluar jendela mobil tanpa minat. Begitu mobil berhenti ia segera tersenyum simpul kepada Arya di bangku pengemudi, lalu segera keluar.

Namun Arya menggenggam tangannya sehingga ia mau tak mau duduk kembali.

" Ra, lo nggak papa? " Terdapat nada cemas di situ, ekspresi Arya pun juga menunjukkan hal yang sama.

Nara menyingkirkan tangan Arya dengan lembut dari pergelangannya, " Gue nggak papa kok. " dan lagi lagi Nara hanya tersenyum simpul lalu segera keluar.

Arya segera membuka pintu mobil." Gue anter yuk. " Entah kenapa Arya mengatakan kalimat itu, walau ia sangat tau jawaban yang akan di berikan Nara.

" Nggak ah, lagi pengen olahraga. " yaitu penolakan dengan berbagai macam alasan.

Nara mulai berjalan dan Arya hanya dapat memandang nya saja. Karena terakhir kali di paksa, entah kenapa Nara menjadi sangat sensitif dan marah.

Sebenarnya rumah Nara cukup jauh dari rumah Arya. Arya sendiri adalah teman baik Nara sejak kecil, ibunya yang selalu sibuk bekerja di berbagai tempat menitipkan Arya padanya.

Sebenarnya bukan hanya Arya, dari dulu Nara menghindari teman temannya untuk bermain ke rumahnya. Karena suatu alasan.

••••

Nara turun dari angkutan umum di depan gang kecil, rumah rumah disana berbaris rapi tanpa celah. Ia terus berjalan sampai tidak ada rumah lagi di samping nya, hanya beberapa pohon.

Telinganya dapat mendengar suara keributan dari sebuah rumah kecil di ujung, matanya langsung melebar. Ia segera berlari menuju rumah itu, melempar tasnya ke teras rumah lalu membuka pintu.

Ia mendapati seorang wanita dengan rambut berantakan, sedang memukuli gadis kecil yang sedang menatap kearahnya dengan air mata yang sudah jatuh.

" Berhenti Bu! " Ia langsung berlari menghampiri keduanya dan berusaha memisahkan.

Sekarang gadis kecil itu sudah bertekuk lutut di pojok ruangan, sedangkan Nara memeluk Ibunya. " Sudah, tidak apa apa Bu. " Nara memejamkan matanya, berusaha menenangkan ibunya.

Gadis itu berdiri. " Semua gara gara lo! Kalau nggak gue nggak bakal menderita kaya gini! "

Mendengar teriakan itu Ibunya berusaha meraih gadis kecil itu, atau adiknya Nara. Namun Nara menghalangi usahanya dengan sekuat tenaga.

Adiknya pergi ke kamarnya lalu membanting pintu keras, Nara hanya melihatnya sambil terus memeluk ibunya.

Seburuk ini lah keadaan keluarganya, ia hanya tak ingin teman temannya tanpa sengaja di sakiti oleh ibunya.

" Bu, kita ke kamar ya. " Nara mengalungkan satu lengan ibunya ke lehernya, berusaha menuntun ibunya yang setengah sadar ke arah kamar. Bau alkohol yang menyengat membuat Nara mual, namun ia tetap menuntun ibunya sampai ke kamar kemudian menidurkan di kasur.

Nara duduk di pinggir kasur sambil memandang ibunya yang sudah terlelap. Air mata mengalir begitu saja, entah sudah keberapa kali Nara menangisi keadaan ini.

Faktanya mabuk atau tidak, kepribadian ibunya tidak jauh berbeda dari sekarang.

••••

Nara melirik beberapa gadis di lorong yang menatap ke arahnya, mereka melihat Nara lalu berbisik satu sama lain. Tak hanya gerombolan gadis itu, ia merasa orang orang di sepanjang lorong melakukan hal yang sama.

" Pagi Li. " Nara menyapa Liya yang tengah duduk sambil melihat ponselnya dengan serius. Mendengar sapaan Nara, Liya mendongak lalu berdiri menarik Nara keluar dari kelas.

••••
 Terasa pendek kah? Ya maaf, To be continue ya:)

2 comments: