Rekomendasi lagu rapper barat

Lagu barat memang biasanya memiliki bagian rap. Beberapa ingin mempelajari bagian rap nya, beberapa mungkin akan menskipnya.

Tapi menurut saya sendiri, lagu rapper memiliki keunikan sendiri. Ini beberapa rekomendasi lagu rapper.

1. I like it - Cardi B, Bad Bunny, J Balvin


Cardi B memang lah rapper terkenal, lagu lagunya selalu enak di dengar. Salah satunya i like it yang sedang booming.
Lagu ini memang banyak bagian rap nya, tapi masih enak untuk di dengar dan di nyanyikan.

2. KOOLIO - Stella Mwangi

Memang tidak terlalu terkenal tapi lagu ini tidak kalah bagusnya dengan lagu lagu populer lainnya. Lagu ini cocok untuk di dengarkan sambil bermain game atau menonton balapan.

3. Bang bang - Jessie J, Ariana Grande, Nicki Minaj. 


Memang termasuk lagu lama, tapi lagu ini masih lah enak untuk di dengar

Lirik lagu 7 Rings - Ariana Grande


Yeah, breakfast at Tiffany's and bottles of bubbles
Girls with tattoos who like getting in trouble
Lashes and diamonds, ATM machines
Buy myself all of my favorite things (Yeah)
Been through some bad shit, I should be a sad bitch
Who woulda thought it'd turn me to a savage?
Rather be tied up with calls and not strings
Write my own checks like I write what I sing, yeah (Yeah)
My wrist, stop watchin', my neck is flossin'
Make big deposits, my gloss is poppin'
You like my hair? Gee, thanks, just bought it
I see it, I like it, I want it, I got it (Yeah)
I want it, I got it, I want it, I got it
I want it, I got it, I want it, I got it
You like my hair? Gee, thanks, just bought it
I see it, I like it, I want it, I got it (Yeah)
Wearing a ring, but ain't gon' be no "Mrs."
Bought matching diamonds for six of my bitches
I'd rather spoil all my friends with my riches
Think retail therapy my new addiction
Whoever said money can't solve your problems
Must not have had enough money to solve 'em
They say, "Which one?" I say, "Nah, I want all of 'em"
Happiness is the same price as red-bottoms
My smile is beamin', my skin is gleamin'
The way it shine, I know you've seen it (You've seen it)
I bought a crib just for the closet
Both his and hers, I want it, I got it, yeah
I want it, I got it, I want it, I got it
I want it, I got it, I want it, I got it (Baby)
You like my hair? Gee, thanks, just bought it (Oh yeah)
I see it, I like it, I want it, I got it (Yeah)
Yeah, my receipts, be lookin' like phone numbers
If it ain't money, then wrong number
Black card is my business card
The way it be settin' the tone for me
I don't mean to brag, but I be like, "Put it in the bag, " yeah
When you see them racks, they stacked up like my ass, yeah
Shoot, go from the store to the booth
Make it all back in one loop, give me the loot
Never mind, I got the juice
Nothing but net when we shoot
Look at my neck, look at my jet
Ain't got enough money to pay me respect
Ain't no budget when I'm on the set
If I like it, then that's what I get, yeah
I want it, I got it, I want it, I got it (Yeah)
I want it, I got it, I want it, I got it (Oh yeah, yeah)
You like my hair? Gee, thanks, just bought it
I see it, I like it, I want it, I got it (Yeah)


Diary of my life | 2

Jadi, masih lanjut sebelumnya.

Dia cuma satu satunya anak yang peduli mau nolong, jahatnya, aku nggak ingat namanya.

Panggil aja 'A', ya maaf udah lama jadi nggak ingat.

Nah semenjak itu nggak ada yang gangguin lagi karena selalu di tolong sama A.

Dan suatu hari ada yang pindah ke sebelah rumah, mengejutkannya yang pindah si A. Rumahku berlantai 2 dan kamarku terletak di atas. Di kamarku terdapat sebuah jendela yang menghadap langsung ke jendela rumah sebelah. Awalnya jendela itu selalu ku tutup karena keadaan rumah sebelah yang kosong, sekarang selalu di buka untuk mengobrol dengan si A.

Cheasy? Memang kejadian seperti itu.

Tak jarang kita bermain bersama di sela jadwal padatku. Terkadang aku yang bermain ke rumahnya, terkadang dia yang kerumahku.

Rumah kami berdua memiliki nuansa yang berada. Rumahnya lebih kearah kuno begitu, di sepanjang lantai dua lantainya tertutupi karpet semua. Sedangkan rumahku lebih ke arah modern, dengan berbagai pilar yang menjulang.

Tentu kita menjadi dekat, bahkan hingga tk kita satu sekolah lagi.

Ibunya bahkan seperti ibuku sendiri, tau apa yang kusuka, dan sebagainya.

Tapi saat libur semester kalau tidak salah, tiba tiba saja aku yang sudah pulang les mendapati rumah sebelah menjadi sepi.

Ketika naik kekamar dan melihat jendela aku melihat banyak kardus di depan halamannya. Lalu mobil melaju bersama dengannya dan keluarga.

Seminggu kemudian aku pindah ke Ungaran, untuk tinggal di tempat nenek dari ibuku.

Sayangnya aku tidak pernah mendengar kabarnya lagi sampai sekarang.

Diary of my life | 1

Sedikit curhatan kecil yang nggak terlalu penting sebenarnya.

Jadi dulu aku masih tinggal di rumah nenekku beserta keluarga, di gajahmungkur, Semarang. Tidak terlalu ingat sih aku di mana letak pastinya.

Saat itu aku berumur sekitar 2 - 3, walau masih kecil jadwalku sangatlah padat. Aku di ikutkan playgrup, lalu setelah selesai kira kira jam 9 aku lanjut menuju Ungaran tempat nenek dari ibuku berada. Paling hanya makan disana, aku langsung menuju tempat les bahasa inggris di dekat alun alun, aku ingat tempat itu sekarang tutup dan menjadi rumah makan londo jowo. Dilanjut les membaca dan menulis baru setelah itu aku dapat bermain.

Cukup padat memang, tapi aku cukup bersyukur hal itu dapat membantuku. Pasalnya aku mengalami peningkatan pesat dalam les bahasa inggris, dan akhirnya pada umurku yang masih muda aku sudah mendapatkan pelajaran tingkat SD.

Sebenarnya aku tidak masalah saat les di kelilingi anak yang lebih tua dari aku, apalagi saat sekolah. Tapi keadaan di sekolah berbeda. Ketika teman teman les menerima ku dengan baik, justru teman teman sekolah ku malah menjauhi aku karena perbedaan umur. Bisa di bilang aku paling muda.

Ada satu anak laki laki, yang menyuruh semuanya menjauhi. Jika di lihat lihat dialah yang paling tua diantara yang lain. Aku tidak berkata apa pun kepada ibu atau ayahku, tidak mau merepotkan menjadi alasanku.

Puncaknya mereka ingin merebut makan siangku tapi ketika tidak sengaja jatuh malah aku yang di salahkan, bahkan mereka nyaris memukulku.

Mungkin sudah terasa sakit kalau saja tidak ada orang berdiri di depanku. Awalnya kukira guru, ternyata salah satu temanku yang geram melihat kejadiannya.

Sinetron? Nah, it's not fake, terserah kalian mau bilang apa. Tapi sampai sini dulu, lanjut berikutnya yaa.

Review Resident Evil 2 Remake

Resident Evil 2 merupakan game horor survival buatan Capcom yang di rilis pada tahun 1998.

Pada 24 Januari 2019 lalu, Capcom kembali merilis Resident Evil 2 Remake.

Jalan cerita masih sama walau di ubah beberapa, grafiknya pun tentu lebih baik dari tahun sebelumnya.

Seperti di game tahun 1998, yang menjadi tokoh utama iyalah Leon S Kennedy dan Claire Redfield.

Di game ini ada 1st run dan 2nd run, kalian bebas memilih antara bermain sebagai Leon atau Claire dahulu.

Uniknya dalam game ini ketika 1st run ending akan di sembunyikan, jadi masih ada true ending di 2nd run.

Beberapa tempat di design masih seperti yang ada di original, membuat nuansa nostalgia terasa sekali.


Design karakter dari para tokoh pun di sesuaikan dengan game originalnya. 

Di game ini juga memiliki 6 DLC, diantaranya ada tofu survivor yang terkenal juga. 



Copic markers untuk pemula

Nah pertama tama apa sih copic marker itu?

Copic marker atau spidol copic adalah alat menggambar khusus atau profesional.

Sebenarnya jika ingin menjadi profesional tidak harus membeli spidol ini, mungkin kalian berpikir bisa menggambar dengan baik lalu harus membeli ini.

Sebenarnya kalian harus memikirkan dahulu pengeluaran kalian, karena satu buah copic marker saja harganya 65k. Jika membeli yang isi 72 mungkin bisa sampai 4 juta.

Walau uang kalian cukup untuk membeli, walau pun satu saja. Apakah kalian akan mewarnai hanya dengan satu atau dua warna?

Lagipula copic marker tidak lah mudah untuk menggunakan nya, butuh keahlian dan ketelitian untuk menggunakannya.

Memperhatikan ketebalan dan ketipisan sangat lah penting.

Ketika menggunakan copic marker, mengulang goresan tidak di sarankan ( kecuali kalian memang sengaja ingin menebalkan bagian itu ).

Yah sekian tips simple dari saya, semoga bermanfaat:)

Dreamer(s) - a story (2)

2|Situation

" Ra, kemana aja sih lo ni. "

Nara langsung menangkap sosok Liya yang sedang duduk ditengah, segera ia menghampiri dan meletakkan tasnya di bangku samping Liya.

" Ya maaf, kejebak sama orang aneh tadi. "

" Orang aneh? " Liya mengerutkan kening.

" Yah nggak penting sih sebenarnya, dia nggak ngapa ngapain gue juga kok. " Nara dengan tenang mengeluarkan kotak pensilnya dari dalam tas. " Yang lebih penting lagi, gue mau cerita sama lo. "

" Ya udah gih cerita aja. " Liya memangku wajahnya dengan tangan ke arah Nara, siap mendengarkan ceritanya.

" Gimana ceritanya ya, gue tu- " Perkataan Nara terhenti karena merasa ada yang memegang rambutnya dan mengacak ngacaknya pelan.

" Wah ternyata lo beruntung banget ya, sekarang malah kelasnya tetanggaan sama gue. " Suara berat yang familiar membuat mata Nara membulat dan segera menengok ke belakangnya.

Liya menutup mulutnya dan menunjukkan ekspresi tak percaya, dan hampir seluruh gadis di kelasnya melakukan hal yang sama.

Nara tidak mengerti, mengapa pemandangan ini terus ia lihat ketika berada di sekitar cowok menyebalkan di depannya.

" Lo kurang beruntung, harusnya lo seke- "

Nara memegang tangan Elon yang berniat mengacak rambutnya lagi, dengan tatapan tajam yang menandakan Nara tidak suka.

" Maaf gue nggak kenal lo. " Katanya ketus, membuat sekelas tiba tiba sunyi. Kemudian di gantikan seisi kelas yang berbisik satu sama lain.

Liya menarik tangan Nara keluar kelas, berhenti di depan.

" Lo bercanda kan? " Liya memegang kedua pundak Nara dengan ekspresi serius.

Nara memasang ekspresi bingung. " bercanda apanya Li, itu cowok yang gue maksud. "

Elon keluar dari dalam kelas di ikuti beberapa anak laki laki di belakangnya. Ia menatap Nara sebentar, kemudian tersenyum miring lalu pergi.

" Ra, dia it- "

" Kenapa kalian masih di luar? "

Suara seseorang memotong perkataan Liya, membuat keduanya menoleh kompak dan menemukan sosok wanita paruh baya.

" Eh, anu bu, kita cuma lagi cari angin aja, di dalam panas bu. " Liya tersenyum kaku.

" Masuk sekarang! "

••••

Nara menghembuskan nafasnya berat, matanya menatap keluar jendela mobil tanpa minat. Begitu mobil berhenti ia segera tersenyum simpul kepada Arya di bangku pengemudi, lalu segera keluar.

Namun Arya menggenggam tangannya sehingga ia mau tak mau duduk kembali.

" Ra, lo nggak papa? " Terdapat nada cemas di situ, ekspresi Arya pun juga menunjukkan hal yang sama.

Nara menyingkirkan tangan Arya dengan lembut dari pergelangannya, " Gue nggak papa kok. " dan lagi lagi Nara hanya tersenyum simpul lalu segera keluar.

Arya segera membuka pintu mobil." Gue anter yuk. " Entah kenapa Arya mengatakan kalimat itu, walau ia sangat tau jawaban yang akan di berikan Nara.

" Nggak ah, lagi pengen olahraga. " yaitu penolakan dengan berbagai macam alasan.

Nara mulai berjalan dan Arya hanya dapat memandang nya saja. Karena terakhir kali di paksa, entah kenapa Nara menjadi sangat sensitif dan marah.

Sebenarnya rumah Nara cukup jauh dari rumah Arya. Arya sendiri adalah teman baik Nara sejak kecil, ibunya yang selalu sibuk bekerja di berbagai tempat menitipkan Arya padanya.

Sebenarnya bukan hanya Arya, dari dulu Nara menghindari teman temannya untuk bermain ke rumahnya. Karena suatu alasan.

••••

Nara turun dari angkutan umum di depan gang kecil, rumah rumah disana berbaris rapi tanpa celah. Ia terus berjalan sampai tidak ada rumah lagi di samping nya, hanya beberapa pohon.

Telinganya dapat mendengar suara keributan dari sebuah rumah kecil di ujung, matanya langsung melebar. Ia segera berlari menuju rumah itu, melempar tasnya ke teras rumah lalu membuka pintu.

Ia mendapati seorang wanita dengan rambut berantakan, sedang memukuli gadis kecil yang sedang menatap kearahnya dengan air mata yang sudah jatuh.

" Berhenti Bu! " Ia langsung berlari menghampiri keduanya dan berusaha memisahkan.

Sekarang gadis kecil itu sudah bertekuk lutut di pojok ruangan, sedangkan Nara memeluk Ibunya. " Sudah, tidak apa apa Bu. " Nara memejamkan matanya, berusaha menenangkan ibunya.

Gadis itu berdiri. " Semua gara gara lo! Kalau nggak gue nggak bakal menderita kaya gini! "

Mendengar teriakan itu Ibunya berusaha meraih gadis kecil itu, atau adiknya Nara. Namun Nara menghalangi usahanya dengan sekuat tenaga.

Adiknya pergi ke kamarnya lalu membanting pintu keras, Nara hanya melihatnya sambil terus memeluk ibunya.

Seburuk ini lah keadaan keluarganya, ia hanya tak ingin teman temannya tanpa sengaja di sakiti oleh ibunya.

" Bu, kita ke kamar ya. " Nara mengalungkan satu lengan ibunya ke lehernya, berusaha menuntun ibunya yang setengah sadar ke arah kamar. Bau alkohol yang menyengat membuat Nara mual, namun ia tetap menuntun ibunya sampai ke kamar kemudian menidurkan di kasur.

Nara duduk di pinggir kasur sambil memandang ibunya yang sudah terlelap. Air mata mengalir begitu saja, entah sudah keberapa kali Nara menangisi keadaan ini.

Faktanya mabuk atau tidak, kepribadian ibunya tidak jauh berbeda dari sekarang.

••••

Nara melirik beberapa gadis di lorong yang menatap ke arahnya, mereka melihat Nara lalu berbisik satu sama lain. Tak hanya gerombolan gadis itu, ia merasa orang orang di sepanjang lorong melakukan hal yang sama.

" Pagi Li. " Nara menyapa Liya yang tengah duduk sambil melihat ponselnya dengan serius. Mendengar sapaan Nara, Liya mendongak lalu berdiri menarik Nara keluar dari kelas.

••••
 Terasa pendek kah? Ya maaf, To be continue ya:)