Dreamer(s) - a story (1)

Hai, cuma iseng aja bikin cerita. But i hope you guys enjoy:) nggak punya pengalaman bikin cerita sih, jadi ku peringatkan : the story is very poorly written.

1| Mimpi

Jam 22.00

Aku yakin sekali sekitar jam 9 tadi aku sudah tertidur lelap di kasurku yang... Yah bisa di bilang cukup nyaman.

Tapi, sekarang ini aku malah terbangun di meja belajar karena dering ponsel.

Parahnya lagi, ini bukan kamarku. Aku yakin sekali, karena seluruh furnitur kamar yang kurasa melebihi ekonomi keluargaku.

Ditambah cermin di sebelah meja belajar membuatku tambah merinding, karena yang ku lihat bukan pantulan diriku sendiri.

Jika kalian anggap ini aneh, begitu juga aku. Sudah ku cubit pipiku berkali kali dengan harapan aku terbangun dan menertawakan mimpi konyol ini, tapi yang ada aku malah kesakitan.

Dering ponsel menyadarkan ku lagi, membuatku memilih untuk mengambilnya. Dan lagi lagi ini bukan ponselku, tentu saja ponselku bukan ponsel yang iklannya baru keluar 2 hari lalu.

Yang membuatku makin menahan nafas adalah isi pesannya, membutuhkan waktu sampai aku benar benar percaya bahwa pesan itu ada.

Dia, yang sudah ku perhatikan selama beberapa tahun terakhir. Menanyakan hal hal manis yang hanya terbayang di mimpi olehku.

Tidak menghiraukan pesan darinya, aku kembali menatap pantulan di cermin.

Gadis manis, cantik, sungguh sempurna tampaknya. Tapi itu bukan diriku.

Apa yang sebenarnya terjadi?

••••

Lagu '24K' milik Bruno Mars sudah terdengar sejak tadi memenuhi ruangan bercat putih. Tirai kamar yang tiba tiba di sibak membuat pemuda yang tengah tertidur di kasur mengernyitkan dahinya karena terkena cahaya matahari.

Alih alih bangun, pemuda itu malah menarik selimut ke wajahnya supaya tidak terkena cahaya. " 5 menit lagi, Ra. "

Timpukan guling tiba tiba di wajah mampu membuat pemuda itu terbangun, langsung terduduk di kasurnya.

Pemuda itu sibuk mengusap wajahnya sambil mengomel karena dibangun kan, sementara gadis yang menjadi dalang rusaknya mimpi indah pemuda itu hanya memutar mata seakan hal itu sudah biasa terjadi.

" Cepat bersiap, sarapan udah siap dibawah. " Ucap gadis tadi seraya melangkah keluar.

Tidak mendengar jawaban gadis itu jadi menghentikan langkahnya dan menengok ke belakang.

"Arya! " Ia kembali menimpuk pemuda tersebut dengan guling karena tidur dengan pulas kembali. " Lo mau kita telat? "

Pemuda tersebut berdiri tanpa menjawab pertanyaan gadis tadi, ia mengambil handuk lalu masuk ke sebuah ruangan.

••••

" Ra! "

Teriakan cempreng seorang gadis dengan lambaian tangannya yang berlebihan membuat orang yang di panggilnya tadi tidak sulit mencarinya di kerumunan.

" Naraa, kangen lo. " gadis yang tadi berteriak itu langsung memeluk sahabatnya dengan wajah sedih.

" Alay. " gumaman dari Arya langsung disambut sikutan dari Nara yang berada disebelahnya.

Nara terkekeh geli kemudian balas memeluk sahabatnya. " Gue juga kangen lo kok, Liya "

" Udah yuk masuk, lama banget lo nih.  " Liya melepas pelukannya dan mulai merangkul Nara sambil melangkah memasuki gerbang, meninggalkan Arya di belakang.

" Oh gitu, Nara di kangenin gue nggak. " Arya sengaja mengeraskan suaranya sambil berjalan di belakang mereka.

" Penting ya gue kangen apa nggak sama orang yang nyusahin Nara mulu. " Liya menjawab dengan datar tanpa melihat ke arah Arya.

" Ya ampun, udah tahun keberapa ini, kita bareng mulu lo masih aja cuek. "

" Ya justru itu gue bosen temennya itu itu mulu dari TK sampai SMA. "

Nara terkekeh geli melihat pertengkaran kecil di antara kedua sahabatnya, " Oh berarti Liya bosen nih temenan sama gue. " ia tersenyum jahil seraya melangkah duluan.

" Eh, bukan gitu Raa. " Liya mengejar Nara yang sudah melangkah lebih dulu menuju papan pengumuman.

" Yak bagus, kita sekelas lagi. " Ucapnya datar setelah matanya menyapu kertas kertas yang ada di papan, kemudian segera melangkah ke kelasnya.

" Eh Ra, kita-. " Liya menengok namun ternyata yang diajak bicara sudah pergi.

••••

Seorang pemuda tampak dengan angkuhnya berjalan di sepanjang lorong, tanpa berbuat banyak pemuda itu telah menjadi pusat perhatian gadis di sepanjang lorong. Dari arah yang berlawanan Nara berjalan sambil sibuk mencari sesuatu di tasnya.

" Eh maaf, " Tak sengaja Nara menubruk punggung pemuda itu hingga hilang keseimbangan sejenak. Walau Nara tidak jatuh, tapi tasnya yang terbuka setengah membuat beberapa isinya keluar.

Mata Nara menangkap sebuah jam antik terjun bebas dari dalam tasnya, membuat wajahnya menjadi pucat. Namun sedetik kemudian sebuah tangan menangkapnya membuat jam tersebut urung menghantam lantai.

Pemuda tersebut membuka tangannya, memperhatikan jam yang sudah berkarat dan mati itu dengan seksama.

" Kenapa lo- "

" Balikin jam gue! " Nara sudah mengulurkan tangannya dengan pandangan tajam ke arah pemuda itu.

Pemuda itu mengernyitkan kening. "Gini cara lo berterima kasih? "

Sadar sikapnya salah, Nara malu malu menarik tangannya kembali, " Itu benda berharga. " gumamnya pelan namun dapat terdengar.

" Yah, pastinya kalo gue tanya kenapa lo juga nggak bakal jelasin. " Pemuda tersebut menyerah jam tadi tak peduli.

Sekarang giliran Nara yang mengernyitkan kening, seingatnya dia tidak pernah melihat pemuda di depannya. Apalagi sekolahnya adalah sekolah yayasan, yang menyediakan TK sampai SMA. Mengejutkan memang, tapi semenjak SMP Nara tidak mendengar adanya murid baru lagi, mungkin saja karena biayanya.

Seakan mengerti apa yang di pikirkan Nara, pemuda tersebut segera menyahut " Gue- "

" Elon? "

Suara perempuan dari balik punggung pemuda itu membuat keduanya menoleh kompak.

" Eh maaf, Kak Elon maksudnya. " Seorang gadis dengan baju osis dan rok biru tersenyum manis ke arah pemuda yang dipanggil ' Elon '. Gadis itu malu malu menyodorkan buku tulis lengkap dengan bolpoin. Elon langsung mengambilnya dan menuliskan sesuatu di situ.

" Makasih Kak Elon. " Gadis itu tersenyum riang sambil memeluk buku tulisnya yang telah di tulis oleh Elon, kemudian segera kembali bersama teman temannya di belakang sebelum ketahuan guru bahwa mereka menyelinap ke kawasan SMA.

" Minta apaan tuh? " Kata kata itu meluncur begitu saja dari mulut Nara, rasa penasarannya terlalu berlebih saat ini. Dalam hati Nara meruntuki dirinya yang sudah bertanya, seharusnya dia pergi saja, bukannya mencampuri urusan orang lain.

Elon menjentikkan jari, membuat Nara memperhatikannya. " Gue baru sadar. " Elon menatap Nara, " Siniin tas lo! " tanpa seperizinan Nara, Elon langsung mengambil satu buku Nara yang tadi sempat jatuh.

Elon mengeluarkan bolpoin dari sakunya, " Tenang, gue sedia bolpoin kok bukan fans. " kemudian mulai menuliskan sesuatu di buku Nara. Nara yang melihatnya hanya mengerutkan kening.

Elon menyerah kan buku itu ke Nara, " Lain kali nggak usah sok pura pura nabrak, ngomong aja langsung. " kemudian pergi begitu saja.

Nara membuka bukunya untuk melihat apa yang ditulis pemuda aneh tadi.

Sebuah tanda tangan, dan sebuah kalimat tepat di bawahnya.

Untuk yang tercinta.